Selasa, 03 Januari 2017

HOROR (Part. I)

Pukul 03.20
Film horor adalah salah satu hal yang membuat gua nggak nyaman dan nggak gua mengerti faedah dari setingan film ini yang membuat orang mempermainkan adrenalin mereka dengan santainya bahkan bikin ketagihan. Kalau kebanyakan orang bisa mempermainkan “permainan” ini gua nggak. Bukan takut, tapi gua males aja mengikuti “kejutan-kejutan” yang disuguhkan sutradara. Gua banyak bicara padahal nggak pernah nonton film horor. Boro-boro film horor, film bergenre thriler aja gua belum lulus dan nggak bakal bisa tamat. 




Tahun 2016, hal yang bikin gua merinding adalah film Train To Busan. Nonton teasernya di youtube aja gua merem melek, tapi anehnya gua dapet soft copy filmnya. Ada kebiasaan buruk saat nonton film (bukan di tv yang banyak iklan), yaitu secara random mencetin part-partnya jadi bisa diliat adegannya dulu dan sialnya kegiatan ini melatih mental jantung gua karena terkadang yang kepencet itu bagian-bagian “puncaknya” jadi skip aja deh. Tapi lain halnya dengan film ini, gua memberanikan diri karena ada Ino yang temenin gua nonton di Lab Komputer. Di adegan pertama pas rusa kelindes aja gua udah panik.



 Lanjut saat cewek zombie keluar dari kamar WC, gua udah merem-merem. Lanjut lagi di adegan-adegan kampret dimana gua belom prepare mau ngapa-ngapain tapi udah disodorin adegan ngagetin, yang membuat gua reflek teriak. Bukan hanya teriak, tapi teriak-teriak sampe si Ino kebawa panik, bukan karena adegannya tapi karena teriakan histeris gua yang lebih tiba-tiba dari adegan tiba-tibanya film. Emang sih harus diakui, gua rese tapi apa ada pelampiasan lebih baik dibandingkan teriak? Kayanya sih nggak ada. Wkwkwkwkwkwk.....



Itulah kenapa gua benci banget sama yang namanya adegan horor. Emang secara logika nggak horor tapi, lu orang dibuat gak siap dan saat lu nggak siapmomen itulah yang dimanfaatkan untuk mengguncang jantung lu. 

Senin, 02 Januari 2017

Pengalaman Pertama dan Terakhir naik. . . . .


Percaya atau tidak saat gua nulis ini jam 02.00 pagi. Dimulai dari mimpi gua yang nggak tau dimulai darimana dan dari jam berapa, ceritanya diingat dalam situasi lagi banyak orang dalam sebuah reatret di sebuah kolam berenang yang masih kosong. Awalnya semua orang hanya ngelingkerin kolam itu dan anehnya gak ada yang mau nyebur samapai satu momen tiba-tiba ada yang nyanyi lagu budi doremi. “Do..” ada yang nyebur, “Re..” nambah lagi orangnya, “Mi..” dan seterusnya sampe tiba giliran gua untuk nyebur di kolam. Lagunya diulang-ulang nggak tau berapa kali yang penting semua yang ada di sekitar kolam berbahagialah mereka semua. Entah kenapa gua tiba-tiba kena serangan asma atau jantung yang membuat gua jadi ngap nggak bisa napas. Sadar gua ini mimpi bangunlah gua dan ternyata  beneran panik guanya ngap-ngapan.
Gua rasa kaya sepele tapi apa penyebabnya, apa yang gua pikirkan hari kemarin. Nggak tau kenapa yang gua pikirkan adalah peristiwa saat masih SMP di Dufan yang serem banget, wkwkwkwkwk. . . walaupun nggak ada relasinya tapi ya gitu dah. Gua teringat dengan ajakan temen gua Noldy yang tiba-tiba ngajak ke dufan. Ada apa dengan dufan? Tornado. Titik. Gua rasa itu adalah keputusan terburuk yang pernah gua buat dibandingkan hal-hal bodoh lainnya. Saat itu gua masih bocah ingusah yang baru jadi anak SMP dan study tour ke dufan. Singkatnya gua ada di depan wahana paling extreme saat itu. Tanpa banayak berpikir panjang dan nggak ada pertimbangan dan pemikiran gua pengen naik itu. Berat badan 30 kg aja belum ada udah sok-sok an naik Tornado. Badan tipis gua mempengaruhi performa gua dalam mengikuti wahana ini. Lebar bangku, jarak antara kursi dan penyangga jauh banget alhasil ya inilah yang terjadi.
TEEEET!!~~~~~~~~~~~
Wahana dimulai malapetaka terjadi dan disitu gua baru sadar apa artinya sebuah penyesalan. Bak air yang ada di Water Bottle Flip Chalange, seperti itulah kondisi gua. Terguncang secara fisik dan mental.
“MAAAMAAAHHH!!!” <<<<<<<<< (artinya semakin keras dan lantang)
Hanya kata itu yang bisa gua ucapkan dengan lantang dan histeris. Tapi itu hanya awal aja, puncak dari wahana ini adalah saat wahana secara sengaja di matiin di posisi kurang lebih 10 meter di atas tanah. Kampretnya posisi gua ada di bagian yang menghadap langsung ke tanah. Astagah. Keadaan diperhoror dengan badan tipis gua yang hanya bergantung dan bertumpu di belt pengamannya. Anjrit, siapa sih yang ciptain benda macam ini, gak ada aman-amannya pikir gua.
 “TURUNIN!!
TURUNIN!!
TURUNIN!!”
,kosakata gua bertambah saat itu jadi berasa pinter. Berkutat 10 menit dengan maut ,mengakibatkan gua ngedown saat di jalan pulang. Kalau harus berkata jujur, ini adalah pengalaman terburuk sampe-sampe sudah hampir 7 tahun peristiwa itu berlalu sanggup membangunkan gua di pagi buta pukul 2.

Sekali lagi terimakasih kepada abang Noldy, yang berhasil membangkitkan traumatik paling berkesan dalam masa remaja gua. Wkwkwkwkwk........   

Realisasi sebuah Resolusi

    Resolusi, kembang api, begadang, pesta yang meriah mungkin ini kebanyakan orang lakukan saat akhir tahun. Tak banyak juga yang membuat yang namanya resolusi, yang sudah disusun sedemikian rupa bahkan jauh-jauh hari sebelum tahun itu berakhir. Yang disayangnya, terkadang dibuat kurang realistis sehingga tiap tahun seperti mengulangi hal yang sama yang gak pernah terealisasi sama seperti orang jalan di tempat, eh bukan-bukan jalankan dia jalan, berdiri bahkan bergerakpun gak juga. Kenapa? Kalaupun orang itu jalan di tempat, pastinya ada sesuatu yang terjadi entah itu keringetan, jadi bugar dan ya begitulah. Gua rasa sebelum tahun ini berjalan terlalu jauh, ada baiknya sama-sama kita belajar bikin resolusi yang walaupun gua sendiri masih kurang pahami tapi ya mari sama-sama kita pahami. Tapi sebelum itu ada baiknya pahami dulu apa sih resolusi itu, karena banyak yang sok-sok buat tapi artinya aja nggak tau. Kalau dia nggak tau apa yang dia lakuin ya buat apa juga, toh dari awal aja nggak tau.
    Menurut KBBI online, resolusi adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Yak, singkatnya ada keputusan atau kebulatan antara siapa? Ya antara lu dan diri lu sendiri. Yang tertulis, ya berarti ditulis. Kalo hanya “tulis” hanya sebuah kata saja, tapi kalau diberi imbuhan menjadi “ditulis” akan ada sebuah tindakan menjadi suatu pekerjaan. Kebanyakan orang terlalu memudahkan sesuatu di jaman yang serba modern, di zaman yang dikatakan dunia ada di ujung jari dengan mudahnya bilang “Oke, gua noted di smartphone ya.” Kalo hanya di noted aja gua rasa hanya jadi penghias noted note yang berisi nomor rekening, nomor token, yang hanya dicari kalau dicari. Dari banyaknya manusia di dunia, gua adalah salah satu yang PELUPA dan prioritas membuka smartphone untuk entertain aja untuk mencari kesenangan semata. Sekalipun noted yang lu pasang ada di homescreen sekalipun tapi nggak jadi tuntutan dan upaya untuk merealisasikannya sama aja bohong, banyak cakap tapi tak ada usaha untuk menjadi cakap.
Realisasi yang gua rasa dari kata REAL (nyata) dan sasi (singkatan dari “masa gak bisa sih)  kalo disatuin jadi, “Bikin nyata masa nggak bisa sih?” wkwkwkwkwk...abaikan.  Jangan jadikan resolusi hanya menjadi ekspektasi tanpa realisasi. Ya, memang menginginkan sesuatu lebih mudah dibandingkan usaha dalam membuat sesuatu, tapi kalau jelas-jelas susah untuk direalisaikan ya buat apa dibuat? Untuk apa kita berlelah memikirkan hal yang hanya menjadi penghangat hati tapi pada dasarnya nggak mampu, walau memang manusia hidup dari sebuah tantangan tapi kalau tantangan itu sudah melebihi kemampuan untuk dipikir untuk apa dipikir? Buang aja jangan jadi beban.
    Disini mungkin bukan tempat mencari pencerahan, tapi yang gua mau realisasikan dalam tahun 2017 ini salah satunya adalah menulis blog, setiap hari. Untuk yang sudah merasa basi mendengar pernyataan gua ini dari 3 tahun lalu mohon dimaklumilah ya. Awal memang semangat semu mengebu-gebu, makin hari-makin kendur dan lama-lama terlupakan ditelan rutinitas hari-hari kita. Kendala memang akan selalu ada tapi kalau gini-gini aja kapan bisa buat sesuatu yang luar biasa? 2017 bukan lagi di depan mata tapi sudah jadi nyata, yuk bareng-bareng jadikan lebih baik. Sekian dan terimakasih samapi jumpa esok hari!

Selasa, 03 Mei 2016

Gratisan!

             Btw, hampir 2 minggu blog ini tidak berkumandang karena si penulis yang adalah gua sendiri sedang sibuk biar keliatan sibuk :’D . sebenernya udah banyak ide dan pengalaman yang menumpuk tapi hanya gagal dituangkan dalam tulisan. Padahal tujuan buat blog ini adalah melatih konsisten dan biar melawan lupa biar banyak yang diingat. OK, back to topic, GRATISAN! Siapa yang nggak suka gratisan, ya bisa aja wifi, voucher, dll dan gua yakin kalian lebih paham dunia gratisan dibandingkan gua.

Gratisan sendiri di ambil dari kata dasar GRATIS yang menurut KBBI artinya : cuma-cuma atau tidak dipungut bayaran. Dijaman sekarang yang sudah sangat canggih dan persaingan pasar yang tinggi (cieilah..) disana sini banyak tuh yang gratisan, dan sebagai orang yang hidup dijaman ini gua juga nggak mau kalah ikutin yang namanya gratisan, salah satunya adalah dalam kendaraan.

Lho? Kendaraan? Yap, kemana-mana sekarang bisa gratis asal kamu adalah orang yang baru pertama kali alias first ride naik kendaraan tersebut. Ada Go-jek, Grabbike, dan Uber (sepengetahuan gua, sori kalau salah). Dan pengalaman pertama gua yang “GRATISAN” adalah naik Uber. Butuh diketahui juga salah satu temen gua juga adalah seorang UBERis alias narik UBER jadi gampang deh dapet info-info gratisan. Kemaren, ke Sentul gua dkk gratis naik UBER (temen gua ;D) yang harusnya kalo dinominalkan perjalanan dengan harga 49.500 dan lu nggak bayar apa-apa asalkan lu memang benar-benar first ride. Tapi ditengah-tengah kenikmatan GRATISAN itu, ternyata ada juga yang sudah terbiasa dengan memberi uang, padahal sebenernya GRATIS dan orang itu adalah nyokap gua. Why?

            Dilatarbelakangi dengan mogoknya para supir angkot yang demo 2 hari terkait kebijakan Sistem Satu Arah yang udah mau sebulan berlangsung dan kayanya udah fix benar-benar ditetapkan deh. Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu dan gua mau ke gereja. Jarak rumah dan gereja kira-kira 12 km (lumayanlah ya) so, karena kendaraan yang dimiliki hanya motor yang hanya bisa menampung 2 orang saja alhasil muncullah ide GRATISAN. Tak lain dan tak bukan adalah dengan promo GRATISAN first ride dari UBER.  Awalnya mau manggil gojek or grabbike, tapi itu ide yang buruk. Soalnya ojeg-ojeg komplek  gua udah masang banner gede-gede “OJEG ONLINE DILARANG MASUK”, jadi demi keamanan kami dan tukang ojeg itu sendiri “kami” (karena konteksnya udah satu keluarga jadi nggak personal “gua” lagi). Bermodalkan promo GRATISAN downloadlah aplikasi UBER, kebetulan kakak gua belum pernah pake UBER (iyalah, naik jemputan). Awalnya susah banget cari drivernya tapi berkat kuasa doa (cieilah..) muncullah di GPS driver dan OK kita order dia. Semua berjalan sesuai rencana dan baik-baik saja, saat itu bokap udah duluan naik ojeg komplek langsung ke gereja bayar 30 ribu! Mahal banget kan, sedangkan kakak dan nyokap naik UBER hanya 32.000 itu udah naik mobil + AC + nyaman + GRATIS lagi! Lho, gua mana? Ya gua naik motor.

            Yang aneh adalah (ini true story dari pemaparan kakak gua) pas mereka (kakak dan nyokap) sampai dan mau turun si driver bingung karena dia bingung kok di hp dia hanya ada tulisan 0 dan mereka tidak menjelaskan kalo mereka pake promo first ride dan total 32.000 muncul saat si driver berhasil mengutak-atik hpnya. Oiya, just info ternyata promo itu bener-bener hanya untuk first ride aja jadi mau nggak mau otomatis promo senilai 75.000 akan kepake dan kalau kurang dari 75.000 akan hangus. Jadi jangan ngarep deh promo mau disimpen-simpen buat perjalanan jauh hehehehe.

            Back to story. Seharusnyakan mereka nggak usah bayar apa-apa tapi nyokap gua menyodorkan uang 50.000. What?! Alasannya adalah karena supirnya baik dan asik diajak ngobrol. Jiaelah, padahal gua yang tiap hari goncengin + ngajak ngobrol nggak bayar tuh #iniCURHAT wkwkwkwkwk.

See you next text! ;D

Kamis, 21 April 2016

Wanita Ingin Dipahami Bukan Sekedar Dimengerti

                Sesuai dengan judulnya, bertepatan dengan hari Kartini gua akan membahas tentang wanita. Wait, sebelum dijabarkan lebih jauh ada hal yang harus diklarifikasikan bahwa Kartini belum ibu-ibu. Walaupun setelah gua sedikit cari tahu lewat Wikipedia, beliau melahirkan anak sematawayangnya 13 September 1904 dan wafat 4 hari kemudian, gua rasa dia belum ibu-ibu lah ya. Back to the topic. Wanita,atau bahasa gaul sekarang itu cewek. Mereka adalah mahluk yang tercipta dengan kodrat dibawah pria dan hal ini terus berlanjut hingga terciptalah lagu Sabda Alam. Entah kenapa liriknya menceritakan tentang kehidupan wanita yang ada dibawah kekuasaan pria ”..namun ada kala pria tak berdaya, tekuk lutut disudut kerling wanita..” dan didobrak kesetaraannya dengan pria oleh ibu (ops) Kartini.   

                Ingin dimengerti dan ingin dipahami, terdengar senada tetapi memiliki kedalaman makna yang tak serupa, mungkin bisa dibilang seperti itu. Opini gua dimengerti itu maknanya lebih cetek daripada dipahami. Dimengerti dapat digambarkan seperti lu paham tapi dilakukan hanya sekedar dan ya gitu-gitu aja, berbeda dengan dipahami. Kalau yang namanya dipahami, bukan saja paham,lakukan namun juga diresapi makna setiap ucapan dan kata-katanya. Kayanya terlalu berat ya :’D, simplenya adalah dimengerti belum tentu dipahami tetapi kalau dipahami bisa dibilang sudah sepaket dengan dimengerti.

                Mereka (wanita) walau secuek, segarang, segalak, bahkan seapapun mereka, wanita tetaplah wanita. Dibalik kecuekan,kegarangan, galakan, ada sisi yang ingin dipahami walau terkadang bikin keki. Salah satu contoh umum yang terjadi adalah saat wanita pergi berbelanja. Walaupun di awal sudah memiliki tujuan akan tetapi bisa jadi 180 derajat yang terjadi di akhirnya nanti. Misalkan mau beli ini, berkeliling 6 x di tempat yang sama (soalnya kalo 7x bisa rubuh kaya tembok Yerikho XD) dan pada akhirnya tidak membeli apa-apa. Dalam situasi seperti ini jurus terbaik mereka adalah “Namanya juga WANITA.” Dengan jelas tersirat dari jawaban mereka ,mereka ingin dipahami walau dengan kata-kata penuh makna dan mewajibkan si pria memiliki insting kepekaan yang luar biasa.

                Jadi, seaneh dan dalam segala keberadaan mereka, gua mengajak para pria-pria dan cowok-cowok Indonesia marilah kita CINTAILAH PRODUK-PRODUK INDONESIA! Eh, maksudnya mari hargai dan pahami wanita. Tapi awas, jangan terlalu dipahami karena segala sesuatu yang berlebihan bisa jadi serba salah, dan jawabannya NAMANYA JUGA WANITA! See you guys, Salam Untuk seluruh Wanita Indonesia ;D

Rabu, 20 April 2016

Mencoba Kembali Menulis

                Hampir 1 tahun lulus SMA dan 2 bulan off kuliah membuat aktifitas sehari-hari yang awalnya sibuk jadi gabut. Alhasil kuota internet terkuras dan jari mulai mengeras akibat seharian mengusap-usap layar handphone yang tak kunjung padam 24 jam. Situasi ini membuat gua sedikit frustasi, karena bagai pemain sirkus yang banyak aksi namun terpaksa berhenti karena patah kaki tapi untungnya gua nggak sampai depresi. Ternyata yang namanya menulis nggak semudah yang dilakukan dan dilihat banyak orang. Butuh banyak ide, pengamatan, bahkan energi untuk merangkai kata dan pastinya untuk mengetik. Katanya sih, menulis bisa membuat ketangkasan otak manusia jadi tetap smart dan nggak mudah pikun. Oleh karenanya gua, sebagai orang yang 180 derajat dengan orang uang suka menulis alias lemot dan pikun mencoba jalur ini untuk menulis kembali.

                Kalau namanya menulis yang terbesit di pikiran banyak orang terkhusus gua seperti bernostalgia di masa SD, saat pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini paling sering banget dilakuin biasanya setelah liburan panjang lebaran atau tahun baru. Kita sebagai siswa dituntut untuk mendeskripsikan aktifitas apa saja yang kita lakukan selama liburan, mulai dari langkah terakhir dari pagar sekolah sampai langkah pertama seusai liburan. Gua inget banget waktu SD, kalo misalkan liburan omah gua seneng banget ajak gua jalan-jalan mulai dari pasar, mall, bahkan ke tempat-tempat yang sebenernya kurang dan nggak penting demi sebuah cerita di kertas pas nanti sekolah dan setiap gua bertanya kenapa harus kesini, dia jawab “Biar nanti ada cerita kalo disuruh cerita.” Selain menulis pengalaman saat liburan, kita juga pasti pernah disuruh mengarang bebas atau menulis cerpen. Ternyata setelah hal ini penting, dikarenakan imajinasi anak kecil yang masih luas,polos, dan out of the box. Kadang juga sangking out of the box, karya yang ditulis bener-bener nggak masuk akal.

                Btw, ngomongin masalah menulis pengalaman, gua pernah menulis pengalaman masa kecil gua dan saat disuruh baca di depan kelas gua nangis karena diketawain, maklumlah namanya juga anak kecil dikit-dikit nangis, ngadu, marah, labil gitu aja terus. Tapi ada satu poin yang menarik saat lu menulis, khususnya saat lu menuliskan pengalaman buruk atau sedih lu. Mengapa begitu? Usut punya usut, konon katanya sih kalo kita menuliskan sesuatu entah dalam tulis tangan atau ketikan bisa meredakan gejolak emosi yang ada dalam pikiran kita. Menurut gua sih itu masuk akal, dikarenakan segala sesuatu yang hanya dalam dipikiran tanpa ditulis atau diutarakan lama-kelamaan bisa jadi pola pikir yang bisa berpengaruh dalam tindakan kita. Jadi, kalo misalkan ada masalah ya tulis aja tuh tapi jangan tulis-tulis aja butuh juga komunikasi 2 arah jadi bisa diklarifikasikan dan bagikan deh masalahnya. Yak cukup sekian untuk hari ini, gua berharap bisa posting setiap hari ya walau hanya 1-3 paragraf nggak apa-apa kali ya. See you, bye!