Senin, 02 Januari 2017

Pengalaman Pertama dan Terakhir naik. . . . .


Percaya atau tidak saat gua nulis ini jam 02.00 pagi. Dimulai dari mimpi gua yang nggak tau dimulai darimana dan dari jam berapa, ceritanya diingat dalam situasi lagi banyak orang dalam sebuah reatret di sebuah kolam berenang yang masih kosong. Awalnya semua orang hanya ngelingkerin kolam itu dan anehnya gak ada yang mau nyebur samapai satu momen tiba-tiba ada yang nyanyi lagu budi doremi. “Do..” ada yang nyebur, “Re..” nambah lagi orangnya, “Mi..” dan seterusnya sampe tiba giliran gua untuk nyebur di kolam. Lagunya diulang-ulang nggak tau berapa kali yang penting semua yang ada di sekitar kolam berbahagialah mereka semua. Entah kenapa gua tiba-tiba kena serangan asma atau jantung yang membuat gua jadi ngap nggak bisa napas. Sadar gua ini mimpi bangunlah gua dan ternyata  beneran panik guanya ngap-ngapan.
Gua rasa kaya sepele tapi apa penyebabnya, apa yang gua pikirkan hari kemarin. Nggak tau kenapa yang gua pikirkan adalah peristiwa saat masih SMP di Dufan yang serem banget, wkwkwkwkwk. . . walaupun nggak ada relasinya tapi ya gitu dah. Gua teringat dengan ajakan temen gua Noldy yang tiba-tiba ngajak ke dufan. Ada apa dengan dufan? Tornado. Titik. Gua rasa itu adalah keputusan terburuk yang pernah gua buat dibandingkan hal-hal bodoh lainnya. Saat itu gua masih bocah ingusah yang baru jadi anak SMP dan study tour ke dufan. Singkatnya gua ada di depan wahana paling extreme saat itu. Tanpa banayak berpikir panjang dan nggak ada pertimbangan dan pemikiran gua pengen naik itu. Berat badan 30 kg aja belum ada udah sok-sok an naik Tornado. Badan tipis gua mempengaruhi performa gua dalam mengikuti wahana ini. Lebar bangku, jarak antara kursi dan penyangga jauh banget alhasil ya inilah yang terjadi.
TEEEET!!~~~~~~~~~~~
Wahana dimulai malapetaka terjadi dan disitu gua baru sadar apa artinya sebuah penyesalan. Bak air yang ada di Water Bottle Flip Chalange, seperti itulah kondisi gua. Terguncang secara fisik dan mental.
“MAAAMAAAHHH!!!” <<<<<<<<< (artinya semakin keras dan lantang)
Hanya kata itu yang bisa gua ucapkan dengan lantang dan histeris. Tapi itu hanya awal aja, puncak dari wahana ini adalah saat wahana secara sengaja di matiin di posisi kurang lebih 10 meter di atas tanah. Kampretnya posisi gua ada di bagian yang menghadap langsung ke tanah. Astagah. Keadaan diperhoror dengan badan tipis gua yang hanya bergantung dan bertumpu di belt pengamannya. Anjrit, siapa sih yang ciptain benda macam ini, gak ada aman-amannya pikir gua.
 “TURUNIN!!
TURUNIN!!
TURUNIN!!”
,kosakata gua bertambah saat itu jadi berasa pinter. Berkutat 10 menit dengan maut ,mengakibatkan gua ngedown saat di jalan pulang. Kalau harus berkata jujur, ini adalah pengalaman terburuk sampe-sampe sudah hampir 7 tahun peristiwa itu berlalu sanggup membangunkan gua di pagi buta pukul 2.

Sekali lagi terimakasih kepada abang Noldy, yang berhasil membangkitkan traumatik paling berkesan dalam masa remaja gua. Wkwkwkwkwk........   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar